Pendakian Everest Pertama oleh Tim Indonesia 1997
Boukreev
kembali ke Nepal dan pada tanggal. 25 september 1996 mendaki tanpa
tabung zat asam Cho Oyu (8201m) dan pada 9.oktober mendaki Sisha Pangma
(Puncak Utara, 8008m).
Di musim gugur Boukreev mengunjungi kantor temannya Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu, lalu dia mengajukan satu Proyek ke Boukreev.
Di musim gugur Boukreev mengunjungi kantor temannya Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu, lalu dia mengajukan satu Proyek ke Boukreev.
Satu
tim dari Indonesia tahun depan ingin mendaki Mt. Everest melalui Sudost
grat (punggung Tenggara), jadi jalur yang sama seperti tahun lalu
bersama Scot Fischer. Setelah dia pertimbangkan, maka Boukreev sanggup
menjadi Kepala Pendakian.
Terjemahan di bawah ini percakapan langsung dari suara Boukreev dgn tape recorder,
Tawaran
ini sangat menarik bagiku, karena saya masih ada "Niat" dan "Janji"
untuk menguburkan Scot Fischer dan Yasuko Namba secara layak, yang gugur
dari malapetaka ketika turun dari puncak Everest tahun lalu, ini sangat
penting bagi saya. Saya tidak dapat menghindari malapetaka itu walaupun
saya telah berusaha sekuat tenaga menghindari korban sekecil mungkin.
Dengan
orang Indonesia saya melihat mereka percaya dengan kemampuan saya, dan
juga saya memerlukan uang untuk hidup saya. Saya harap tim Indonesia ini
bisa mengakui saya sebagai Trainer dan Pemimpin dalam tim pendakian
ini. Saya juga mengakui, saya sangat tersinggung dengan apa yang di
tulis oleh media di amerika tentang malapetaka tahun lalu.
Tanpa dukungan dari teman-teman di Eropa seperti Rolf Dujmovits dan Reinhold Messner, nama saya dimata masyarakat amerika sangat buruk. Setelah saya bertemu dengan organisator tim indonesia di Kathmandu, saya terbang ke Jakarta untuk berbicara dengan Jendral Prabowo, yang sebagai Kordinator Pendakian Nasional.
Saya
mengatakan secara terus terang kepadanya, bahwa dengan keadaan seperti
sekarang, keberhasilan mencapai puncak Everest (perkiraan saya) sangat
minim. Saya mengatakan ke dia, barangkali hanya 30%, dan itu juga
artinya hanya satu pendaki yang sampai ke puncak. Seterusnya saya
terangkan kemungkinan jatuh korban juga 50%, 50%. Jadi dengan kemampuan
pendaki Indonesia untuk mendaki Everest menurut saya tidak memadai.
Karena itu saya mengusulkan satu tahun penuh training mendaki gunung yang puncaknya tinggi secara perlahan beraklimitasi, dan usulan saya ditolak. Tradisi saya dalam olahraga selalu dengan memakai pikiran yang sehat, tidak memakai cara "Roulette Rusia".
Kematian
seorang anggota ekspedisi, selalu pukulan yang berat yang menghancurkan
keberhasilan mencapai puncak. Pada ketinggian lebih dari 8000m,
keselamatan pendaki amatir juga menurun, termasuk juga orang yang
fitness super. Saya tidak bisa menjamin keselamatan orang-orang yang
berpengalaman sangat sedikit atau tidak sama sekali di gunung-gunung
tertinggi di dunia ini.
Orang Indonesia bisa membeli dan mempelajari pengalaman saya, nasehat saya, dan tugas saya sebagai pemimpin pendakian dan tim penyelamat. Kalau mereka ingin ke puncak Everest, mereka harus menanggung sendiri kibat kesombongan mereka nanti, karena mereka sangat tidak berpengalaman. Jendral Prabowo meyakinkan saya, bahwa orang-orang mereka sangat bermotivasi dan mampu, mereka akan memberi jiwa mereka, untuk mencapai tujuan ini. Satu jawaban yang jujur dan juga membuat saya terkejut.
Saya
merancang pekerjaan saya, agar pendaki Indonesia mendapat cukup
kesempatan belajar dari pengalaman saya, tapi juga mereka harus belajar
berdiri sendiri. Karena semua ini tergantung akhirnya dari kemampuan
perorangan dan pertanggung jawaban sendiri saat di Everest ketika mau
muncak nanti. Walaupun telah dipersiapkan semua sebelumnya, tetap saja
berbahaya. Jendral Prabowo setuju, sebelum ekspedisi dimulai, tim
pendaki harus berlatih dan menguatkan kondisi tubuh.
Saya tahu, bahwa kami membutuhkan para pelatih yang sangat menguasai dan berpengalaman dalam teknik dan pengalaman di gunung yang tinggi, yang nanti akan bekerja sebagai penasehat ketika berlatih dan aklimatisasi dan juga ketika muncak mereka juga bekerja sebagai tim penyelamat. Konsep dari tim penyelamat sangat penting bagi saya, karena itu saya tekankan dengan jelas. Saya juga tidak bersedia memberi garansi ke jendral Prabowo akan keberhasilan ekspedisi ini.
Saya
juga tidak akan melanjuntukan ekspedisi ini, walaupun kami sudah dekat
puncak, jika keselamatan tidak mengizinkan. Jendral Prabowo juga harus
mengerti, dengan keadaan para pendaki ketika mau muncak dan keadaan
cuaca yang mungkin saja membatalkan rencana menyerbu ke puncak Everest.
Semua itu saya yang menentukan. Dia juga harus mengerti, di ketinggian
8000m juga tim penyelamat yang terbaik diduniapun, tidak bisa memberi
garansi 100%.
Kalau
hal yang tak diingini terjadi, saya bersedia berusaha menyelamatkan
dengan resiko keselamatan saya. Itulah dasar perjanjian kami. Training
program akan kami mulai dengan tepat waktunya. Di ambang musim dingin
ini direncanakan pelatihan aklimatisasi di ketinggian 6000m dengan udara
dingin dan angin. Kami akan berlatih; disiplin, mental dan stamina di
cuaca yang berat, sesuai dengan tantangan di Everest nantiTraining program dimulai tanggal. 15 Desember 1996 di Nepal.
34
pendaki, orang sipil dengan beberapa pengalaman gunung, dan anggota
tentara yang tidak ada pengalaman di gunung tapi sangat fit dan sangat
disiplin, mereka ini semua sebagai anggota tim permulaan. Dari 34 orang
ini akan disaring dan diambil yang paling mampu untuk pendakian nanti.
Karakter penyaringan dilihat dari kesehatan, stamina, kemampuan, dan
mental. Diwaktu ini para calon pendaki belajar teknik tali menali dan
tangga menangga dan juga teknik dasar dari memanjat.
Ditahun lalu, komunikasi adalah masalah kami yang besar, dimana saya mengetahuinya setelah semua terlambat. Bukan hanya perbedaan bahasa membikin orang frustasi, juga tidak lengkapnya alat komunikasi. Sekarang ini, setiap anggota tim harus dilengkapi dengan alat komunikasi. Saya usulkan dari “base camp” selalu ada kontak langsung dengan pusat komunikasi di Kathmandu.
Kecuali
itu saya menuntut untuk mendapatkan laporan cuaca dari setasiun
meteorologi di lapangan terbang Kathmandu setiap hari. Dari semua ini
karena ada bantuan militer, saya berterima kasih juga, karena kami juga
dibantu oleh militer Nepal.
Perwira
Ekspedisi kami Monty Sorongan yang bagus berbahasa inggris berfungsi
sebagai penghubung antara gunung dan pusat komunikasi di Kathmandu. Dan
bahasa dalam ekpedisi ini kami pergunakan bahasa Inggris. Semua ini
untuk menghindari kesalahpahaman.
-->
Untuk
ekspedisi ini saya berhasil mendapatkan 2 orang Alpinist rusia yang
sangat terkenal untuk bekerja sama dengan kami: Vladimir Bashkirov dan
Dr. Evgeni Vinogradski.
Bashkirov
yang berumur 45 tahun, berpengalaman selama 15 tahun sebagai pemandu
ekpedisi di daerah yang sulit, dan mengenal jalur di Pamir dan Kaukasus,
dan berhasil mendaki 6 gunung diatas 8000m, dua antaranya Mt.Everest,
suatu keuntungan di mau berkerja sama dengan kami. Lain dengan saya, dia
pendiam dan suka berdiplomasi dan juga pintar berbahasa inggris. Dia
orangnya supel untuk berkomunikasi, juga menguntungkan untuk tim
ekspedisi. Di Rusia dia terkenal sebagai kameraman petualangan dan
produser film, nanti juga dia akan membikin film untuk ekpedisi
Indonesia ini.
Dr.
Evgeni Vinogradski, umurnya 50 tahun, 7 kali juara manjat di Rusia dan
25 tahun berpengalaman sebagai pelatih pada pendakian gunung yang tinggi
dan dokter olahraga, yang akan melengkapi staf penasehat di ekpedisi
ini. Evgeni dan saya di tahun 1989 bersama-sama telah melintasi
Kanchenjunga, dia termasuk teman baik saya.
Untuk
saya dia adalah "Garuda Tua", yang telah mendaki lebih dari 20 gunung
yang berketinggian 7000m, dan 8 gunung yang berkentinggian lebih dari
8000m, termasuk 2 pendakian Everest, salah satu dari itu dia telah
bekerja sebagai pimpinan pendakian.
Ang
Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu berfungsi bagian logistik dan
juga untuk mencari Sherpa yang bakal bekerja dgn ekpedisi kami. Kami
harus bersyukur, karena kami mendapatkan Sherpa Apa von Thami, 37th, 7x
menaklukkan Everest, sebagai Sirdar (pemimpin Sherpa) dan First Climber
Sherpa (Sherpa yang ikut muncak) untuk bekerja dengan kami. Sherpa
berada dibawah komando Ang Tshering dan staf Indonesia. Pekerjaan mereka
seperti biasa di basecamp dan juga mereka harus memasang tali pengaman
di jalur diatas Breaking Ice (Eisbruch), menyiapkan highcamp dan
logistik dan ikut menyertai dihari penyerbuan ke puncak, mereka harus
mengirim tabung zat asam untuk tim yang muncak
No comments:
Post a Comment