Thursday, 16 January 2014

Harta Karun Emas Indonesia “The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar
“The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva pada 14 November 1963
Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.
Perjanjian “The Green Hilton Memorial Agreement” di Geneva (Swiss) pada 14 November 1963
Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.
Perjanjian itu bernama “Green Hilton Memorial Agreement Geneva”. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS).
Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.
Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapa pun di tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.
Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menanda tangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara.
Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar Amerika. Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.
Asal Mula Perjanjian “Green Hilton Memorial Agreement”
Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi dimana-mana. Orang-orang ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan di jadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi Informasi sedang menanti di zaman akan datang.
Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankir-bankir dari Bank of International Settlements / BIS (Pusat Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral Emas yang dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui hal tersebut, termasuk Indonesia. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat diantaranya Indonesia, Cina dan Philippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moskow dan Beijing yang notabene adalah musuh Amerika.
Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negara-negara timur dengan barat (Bankir-Bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak di jalankan sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemasonry. Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut. Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah di tipu oleh Bankir International. Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para Bankir Yahudi tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John F.Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang. Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika melainkan di kuasai oleh swasta yang notabene nya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir yahudi tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral. Pemerintah Amerika kemudian melobi Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi di alihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga 2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani. Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditandatangani Soekarno dan John F.Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui Emas batangan milik bangsa Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas
Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika.
Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah Executive Order bernomor 11110, di tandatangani oleh Presiden JFK yang memberi kuasa penuh kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal Reserve. Apa yang pernah di lakukan oleh Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya, agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden JFK. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve)
Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut, presiden Kennedy di tembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangan-tangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno ditumbangkan oleh gerakan Orde baru yang didalangi oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Sampai pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan sub-akun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal Reserve bernama The Black screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of codes. Buku tersebut banyak di buru oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason, para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.
Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara JFK dan Presiden Soekarno melalui Green Hilton Agreement. Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak setiap dollar.
Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Philipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya. Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai Ribuan Trilyun Dollar…(bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negri ini makmur dan sejahtera)..

Kisah Pendakian Everest

Pendakian Everest Pertama oleh Tim Indonesia 1997

Cerita Pendakian Everest oleh Tim Indonesia 1997 yang dikutip dari buku “The Climb” karangan Anatoli Boukreev  yang juga sebagai pemimpin pada ekpedisi tersebut. Memuat juga cerita dari sudut lain tentang tragedi Everest 1996. Diterjemahkan oleh Ade Bachtiar untuk milis Pangrango.
foto dengan pelatih Rusia saat training di Island Peaks (6189m)

KEMBALI KE MT. EVEREST
Boukreev kembali ke Nepal dan pada tanggal. 25 september 1996 mendaki tanpa tabung zat asam Cho Oyu (8201m) dan pada 9.oktober mendaki Sisha Pangma (Puncak Utara, 8008m).
Di musim gugur Boukreev mengunjungi kantor temannya Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu, lalu dia mengajukan satu Proyek ke Boukreev.
Satu tim dari Indonesia tahun depan ingin mendaki Mt. Everest melalui Sudost grat (punggung Tenggara), jadi jalur yang sama seperti tahun lalu bersama Scot Fischer. Setelah dia pertimbangkan, maka Boukreev sanggup menjadi Kepala Pendakian.



Terjemahan di bawah ini percakapan langsung dari suara Boukreev dgn tape recorder,
Tawaran ini sangat menarik bagiku, karena saya masih ada "Niat" dan "Janji" untuk menguburkan Scot Fischer dan Yasuko Namba secara layak, yang gugur dari malapetaka ketika turun dari puncak Everest tahun lalu, ini sangat penting bagi saya. Saya tidak dapat menghindari malapetaka itu walaupun saya telah berusaha sekuat tenaga menghindari korban sekecil mungkin.
Dengan orang Indonesia saya melihat mereka percaya dengan kemampuan saya, dan juga saya memerlukan uang untuk hidup saya. Saya harap tim Indonesia ini bisa mengakui saya sebagai Trainer dan Pemimpin dalam tim pendakian ini. Saya juga mengakui, saya sangat tersinggung dengan apa yang di tulis oleh media di amerika tentang malapetaka tahun lalu.

Tanpa dukungan dari teman-teman di Eropa seperti Rolf Dujmovits dan Reinhold Messner, nama saya dimata masyarakat amerika sangat buruk. Setelah saya bertemu dengan organisator tim indonesia di Kathmandu, saya terbang ke Jakarta untuk berbicara dengan Jendral Prabowo, yang sebagai Kordinator Pendakian Nasional.
Saya mengatakan secara terus terang kepadanya, bahwa dengan keadaan seperti sekarang, keberhasilan mencapai puncak Everest (perkiraan saya) sangat minim. Saya mengatakan ke dia, barangkali hanya 30%, dan itu juga artinya hanya satu pendaki yang sampai ke puncak. Seterusnya saya terangkan kemungkinan jatuh korban juga 50%, 50%. Jadi dengan kemampuan pendaki Indonesia untuk mendaki Everest menurut saya tidak memadai.

Karena itu saya mengusulkan satu tahun penuh training mendaki gunung yang puncaknya tinggi secara perlahan beraklimitasi, dan usulan saya ditolak. Tradisi saya dalam olahraga selalu dengan memakai pikiran yang sehat, tidak memakai cara "Roulette Rusia".
Kematian seorang anggota ekspedisi, selalu pukulan yang berat yang menghancurkan keberhasilan mencapai puncak. Pada ketinggian lebih dari 8000m, keselamatan pendaki amatir juga menurun, termasuk juga orang yang fitness super. Saya tidak bisa menjamin keselamatan orang-orang yang berpengalaman sangat sedikit atau tidak sama sekali di gunung-gunung tertinggi di dunia ini.

Orang Indonesia bisa membeli dan mempelajari pengalaman saya, nasehat saya, dan tugas saya sebagai pemimpin pendakian dan tim penyelamat. Kalau mereka ingin ke puncak Everest, mereka harus menanggung sendiri kibat kesombongan mereka nanti, karena mereka sangat tidak berpengalaman. Jendral Prabowo meyakinkan saya, bahwa orang-orang mereka sangat bermotivasi dan mampu, mereka akan memberi jiwa mereka, untuk mencapai tujuan ini. Satu jawaban yang jujur dan juga membuat saya terkejut.
Saya merancang pekerjaan saya, agar pendaki Indonesia mendapat cukup kesempatan belajar dari pengalaman saya, tapi juga mereka harus belajar berdiri sendiri. Karena semua ini tergantung akhirnya dari kemampuan perorangan dan pertanggung jawaban sendiri saat di Everest ketika mau muncak nanti. Walaupun telah dipersiapkan semua sebelumnya, tetap saja berbahaya. Jendral Prabowo setuju, sebelum ekspedisi dimulai, tim pendaki harus berlatih dan menguatkan kondisi tubuh.

Saya tahu, bahwa kami membutuhkan para pelatih yang sangat menguasai dan berpengalaman dalam teknik dan pengalaman di gunung yang tinggi, yang nanti akan bekerja sebagai penasehat ketika berlatih dan aklimatisasi dan juga ketika muncak mereka juga bekerja sebagai tim penyelamat. Konsep dari tim penyelamat sangat penting bagi saya, karena itu saya tekankan dengan jelas. Saya juga tidak bersedia memberi garansi ke jendral Prabowo akan keberhasilan ekspedisi ini.
Saya juga tidak akan melanjuntukan ekspedisi ini, walaupun kami sudah dekat puncak, jika keselamatan tidak mengizinkan. Jendral Prabowo juga harus mengerti, dengan keadaan para pendaki ketika mau muncak dan keadaan cuaca yang mungkin saja membatalkan rencana menyerbu ke puncak Everest. Semua itu saya yang menentukan. Dia juga harus mengerti, di ketinggian 8000m juga tim penyelamat yang terbaik diduniapun, tidak bisa memberi garansi 100%.
Kalau hal yang tak diingini terjadi, saya bersedia berusaha menyelamatkan dengan resiko keselamatan saya. Itulah dasar perjanjian kami. Training program akan kami mulai dengan tepat waktunya. Di ambang musim dingin ini direncanakan pelatihan aklimatisasi di ketinggian 6000m dengan udara dingin dan angin. Kami akan berlatih; disiplin, mental dan stamina di cuaca yang berat, sesuai dengan tantangan di Everest nanti


Training program dimulai tanggal. 15 Desember 1996 di Nepal.

34 pendaki, orang sipil dengan beberapa pengalaman gunung, dan anggota tentara yang tidak ada pengalaman di gunung tapi sangat fit dan sangat disiplin, mereka ini semua sebagai anggota tim permulaan. Dari 34 orang ini akan disaring dan diambil yang paling mampu untuk pendakian nanti. Karakter penyaringan dilihat dari kesehatan, stamina, kemampuan, dan mental. Diwaktu ini para calon pendaki belajar teknik tali menali dan tangga menangga dan juga teknik dasar dari memanjat.

Ditahun lalu, komunikasi adalah masalah kami yang besar, dimana saya mengetahuinya setelah semua terlambat. Bukan hanya perbedaan bahasa membikin orang frustasi, juga tidak lengkapnya alat komunikasi. Sekarang ini, setiap anggota tim harus dilengkapi dengan alat komunikasi. Saya usulkan dari “base camp” selalu ada kontak langsung dengan pusat komunikasi di Kathmandu.
Kecuali itu saya menuntut untuk mendapatkan laporan cuaca dari setasiun meteorologi di lapangan terbang Kathmandu setiap hari. Dari semua ini karena ada bantuan militer, saya berterima kasih juga, karena kami juga dibantu oleh militer Nepal.
Perwira Ekspedisi kami Monty Sorongan yang bagus berbahasa inggris berfungsi sebagai penghubung antara gunung dan pusat komunikasi di Kathmandu. Dan bahasa dalam ekpedisi ini kami pergunakan bahasa Inggris. Semua ini untuk menghindari kesalahpahaman.
-->
Untuk ekspedisi ini saya berhasil mendapatkan 2 orang Alpinist rusia yang sangat terkenal untuk bekerja sama dengan kami: Vladimir Bashkirov dan Dr. Evgeni Vinogradski.
Bashkirov yang berumur 45 tahun, berpengalaman selama 15 tahun sebagai pemandu ekpedisi di daerah yang sulit, dan mengenal jalur di Pamir dan Kaukasus, dan berhasil mendaki 6 gunung diatas 8000m, dua antaranya Mt.Everest, suatu keuntungan di mau berkerja sama dengan kami. Lain dengan saya, dia pendiam dan suka berdiplomasi dan juga pintar berbahasa inggris. Dia orangnya supel untuk berkomunikasi, juga menguntungkan untuk tim ekspedisi. Di Rusia dia terkenal sebagai kameraman petualangan dan produser film, nanti juga dia akan membikin film untuk ekpedisi Indonesia ini.

Dr. Evgeni Vinogradski, umurnya 50 tahun, 7 kali juara manjat di Rusia dan 25 tahun berpengalaman sebagai pelatih pada pendakian gunung yang tinggi dan dokter olahraga, yang akan melengkapi staf penasehat di ekpedisi ini. Evgeni dan saya di tahun 1989 bersama-sama telah melintasi Kanchenjunga, dia termasuk teman baik saya.
Untuk saya dia adalah "Garuda Tua", yang telah mendaki lebih dari 20 gunung yang berketinggian 7000m, dan 8 gunung yang berkentinggian lebih dari 8000m, termasuk 2 pendakian Everest, salah satu dari itu dia telah bekerja sebagai pimpinan pendakian.
Ang Tshering dari Asian Trekking di Kathmandu berfungsi bagian logistik dan juga untuk mencari Sherpa yang bakal bekerja dgn ekpedisi kami. Kami harus bersyukur, karena kami mendapatkan Sherpa Apa von Thami, 37th, 7x menaklukkan Everest, sebagai Sirdar (pemimpin Sherpa) dan First Climber Sherpa (Sherpa yang ikut muncak) untuk bekerja dengan kami. Sherpa berada dibawah komando Ang Tshering dan staf Indonesia. Pekerjaan mereka seperti biasa di basecamp dan juga mereka harus memasang tali pengaman di jalur diatas Breaking Ice (Eisbruch), menyiapkan highcamp dan logistik dan ikut menyertai dihari penyerbuan ke puncak, mereka harus mengirim tabung zat asam untuk tim yang muncak

Michael Wigge ; Cara Keliling Dunia Tanpa Keluar Uang Sepeserpun

Pernahkah Anda bermimpi untuk berwisata keliling dunia namun urung karena kurang biaya? Wisatawan asal Jerman, Michael Wigge, akan berbagi solusinya.



Wigge meninggalkan rumahnya di Jerman untuk berwisata ke 11 negara dan menempuh jarak 40.000 kilometer, tanpa biaya sepeser pun. Bagaimana dia melakukannya? Menurut Wigge, kuncinya adalah berpikir di luar kebiasaan.

Selama perjalanan keliling dunia selama 150 hari, Wigge melakukan berbagai hal unik, seperti menjadi sofa, menolong turis lain, dan laiinya, semua demi mendapatkan uang, makanan, dan tempat tinggal.

"Meski tidak ada uang, semuanya mungkin dilakukan. Saya telah membuat mimpi saya menjadi kenyataan," tutur Wigge, seperti dikutip dari News, Kamis (19/4/2012).

Menjadi 'sofa manusia'

Wigge mengatakan cara untuk mendapatkan makanan dan minuman gratis adalah berpikir di luar kebiasaan. Dalam perjalanannya keliling dunia, beberapa kali ia menawarkan kepada turis lain untuk menjadikan tubuhnya sebagai sofa sehingga mereka dapat beristirahat di tengah jalan. Hal ini menjaminnya tidak kelaparan dan kehausan dalam perjalanan.

Perang bantal

Ketika berada di San Fransisco dan bersiap menuju Amerika Tengah, Wigge dihadapi kenyataan harus membayar tiket penerbangan seharga Rp3 juta. Tak kehabisan akal, ia kemudian ke bandara dan membawa bantal untuk melakukan perang bantal. Dengan cara ini, dia mendapatkan imbalan dari orang-orang lewat yang melihatnya. Ia berhasil mendapatkan uang untuk tiket ke Amerika Tengah.

Jadi porter

Untuk mencapai situs kuno Machu Picchu di pegunungan Andes, Wigge harus membayar sejumlah uang untuk melakukan pendakian. Untuk menghindari hal ini, ia menjadi porter bagi turis lain dan membawakan barang-barang mereka dari bawah hingga ketinggian 4267 meter.

Bekerja di kedutaan

Ini mungkin cara yang paling efektif. Ketika berada di Panama, Wigge mengunjungi Kedutaan Jerman di negara tersebut dan menawarkan diri untuk bekerja sebagai pelayan. Ia bekerja menghidangkan wine, membukakan pintu bagi tamu besar, dan membersihkan kolam. Uang yang didapatnya dari bekerja di kedutaan ini memberinya cukup banyak uang untuk membeli tiket penerbangan ke tempat selanjutnya.

Wednesday, 1 January 2014

expedisi marapi

guys mendaki gunung itu asyik banget deh 
meskipun saya sendiri baru pertama heheheeh :) 
huft.... capeknya minta ampun guys. 
kami berangkatnya malam guys, saya sendiri aja takut soalnya ini pendakian perdana saya guys.
moment yang paling menakutkan itu. sektar jam 12 malam guys. inni pengalaman pertama dalam hutan tengah malam. wakru kami istirahat pohonnya gerak gerak guys tanpa di hembus angin
langsung aja kami lanjutka perjalana ke tats terburu-buru sambil mengemas brang barang hahahaha...

 kami sampai di atas pas sun set guys wawww.. itu pun juga pengalaman pertama. pokoknya semuanya pertama deh guys hahaha.....
oh ia ada puncak tertinggi di marapi itu guys namanya  puncak merpati ini nih fotonya saat mendaki puncak merpati :)
puncak merpatinya masih banyang-bayang di belakang guys., ini sekitar jam 7 guys.
pertama kita lewat kawah terus ke puncak merpati.. siap ini kita liat taman adelwies guys yang katanya lambang cinta abadi hi hi hi hi hi .......